Fish

Selasa, 22 Januari 2013

Lingkungan hidup

Masalah Lingkungan Hidup Bagi Manusia
Posted on .
Masalah lingkungan semakin lama semakin besar, meluas, dan serius. Ibarat bola salju yang menggelinding, semakin lama semakin besar. Persoalannya bukan hanya bersifat lokal atau translokal, tetapi regional, nasional, trans-nasional, dan global. Dampak-dampak yang terjadi terhadap lingkungan tidak hanya berkait pada satu atau dua segi saja, tetapi kait mengait sesuai dengan sifat lingkungan yang memiliki multi mata rantai relasi yang saling mempengaruhi secara subsistem. Apabila satu aspek dari lingkungan terkena masalah, maka berbagai aspek lainnya akan mengalami dampak atau akibat pula.
Pada mulanya masalah lingkungan hidup merupakan masalah alami, yakni peristiwa-peristiwa yang terjadi sebagai bagian dari proses natural. Proses natural ini terjadi tanpa menimbulkan akibat yang berarti bagi tata lingkungan itu sendiri dan dapat pulih kemudian secara alami (homeostasi).
Akan tetapi, sekarang masalah lingkungan tidak lagi dapat dikatakan sebagai masalah yang semata-mata bersifat alami, karena manusia memberikan faktor penyebab yang sangat signifikan secara variabel bagi peristiwa-peristiwa lingkungan. Tidak bisa disangkal bahwa masalah-masalah lingkungan yang lahir dan berkembang karena faktor manusia jauh lebih besar dan rumit (complicated) dibandingkan dengan faktor alam itu sendiri. Manusia dengan berbagai dimensinya, terutama dengan faktor mobilitas pertumbuhannya, akal pikiran dengan segala perkembangan aspek-aspek kebudayaannya, dan begitu juga dengan faktor proses masa atau zaman yang mengubah karakter dan pandangan manusia, merupakan faktor yang lebih tepat dikaitkan kepada masalah-masalah lingkungan hidup.
Oleh karena itu, persoalan-persoalan lingkunganm seperti krusakan sumber-daya alam, penyusutan cadangan-cadangan hutan, musnahnya berbagai spesies hayati, erosi, banjir, bahkan jenis-jenis penyakit yang berkembang terakhir ini, diyakini merupakan gejala-gejala negatif yang secara dominan bersumber dari faktor manusia itu sendiri. jadi, beralasan jika dikatakan, di mana ada masalah lingkungan maka di situ ada manusia.
Terhadap masalah-masalah lingkungan seperti pencemaran, banjir, tanah longsor, gaga! panen karena harna, kekeringan, punahnya berbagai spesies binatang langka, lahan menjadi tandus, gajah dan harimau mengganggu perkampungan penduduk, dan lain-lainnya, dalam rangka sistem pencegahan (preventive) dan penanggulangan (repressive) yang dilakukan untuk itu, tidak akan efektif jika hanya ditangani dengan paradigma fisik, ilmu pengetahuan dan teknologi, atau ekonomi. Tetapi karena faktor tadi, paradigma solusinya harus pula melibatkan semua aspek humanistis. Maka dalam hal ini, peran ilmu-ilrnu humaniora seperti sosiologi, antropologi, psikologi, hukum, kesehatan, religi, etologi, dan sebagainya sangat strategis dalam pendekatan persoalan lingkungan hidup.
Pustaka : Hukum lingkungan dan ekologi pembangunan Oleh Nommy Horas Thombang Siahaan,Indonesia

Rabu, 30 Mei 2012

http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=293299

untuk teman teman bloger disamping bisa berkreasi dan menuangkan ide2 positif dan sharing pengalaman dan pengetahuan ,jg untuk menambah wawasan bisa bergabung di link ini http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=293299
. mari pererat tali silaturahmi.

KIRANA CIBITUNG,Forum Komunikasi Bersama: https://www.facebook.com/groups/perum.kirana.cibitung/

KIRANA CIBITUNG,Forum Komunikasi Bersama: https://www.facebook.com/groups/perum.kirana.cibitung/

https://www.facebook.com/groups/perum.kirana.cibitung/

Dalam menjalani kehidupan sosial masyarakat di lingkungan perumahan,terkadang cukup sulit untuk menjalaninya.Maklum semua berawal dari individu2 dan keluarga yang baru saling kenal,jadi masih dalam tahap bersosialisasi dan adaptasi satu sama lain. Terkadang satu waktu hubungan satu sama lain sangat harmonis dan nyaman,tapi lain waktu bisa terbalik suasananya jadi tidak nyaman dan kurang bersahabat.Semua timbul dari berbagai masalah,efek maupun keadaan dan komunikasi.Maka dalam menghadapinya diperlukan hati dan fikiran yang luas dan sabar,harus kita memandang dari segala arah permasalahannya,dan diperlukan sharring dengan orang lain,terkadang karena terbawa emosi otak kita jadi buntu,yang terakhir dan utama tentu kita mohon petunjuk dan pertolonganNya yang Maha kuasa dan Adil.

perumahan kirana cibitung comunity https://www.facebook.com/kirana.cibitung

untuk lebih mempererat tali silaturahmi warga perumahan kirana cibitung Perumahan kirana cibitung comunity Ayo hidup bersosial di masyarakat Makhluk sosial, demikian sebutan yang lumrah untuk kita sebagai manusia di muka bumi ini. Secara sederhana, manusia sebagai makhluk sosial diartikan bahwa kehidupan manusia tidak akan berlanjut tanpa hubungan dan bantuan sesamanya. Dengan kata lain manusia tidak bisa bertahan hidup secara individu. Sudah sewajarnya kita saling membantu satu dengan yang lain. Sehingga terwujud suasana kehidupan yang tenteram dan damai. Manusia memang dibekali oleh Tuhan dengan sifat asal (fitrah) yang mendukung untuk hidup secara bersama. Auguste Comte (1798-1857), Bapak Ilmu Sosiologi menyebutkan bahwa satu di antara insting atau naluri yang dimiliki manusia adalah insting sosial (Social Instincts). Seperti kebutuhan akan kasih sayang kepada sesama, keinginan untuk dihormati dan dihargai, serta kebutuhan untuk hidup bersama. Semua orang yang masih sadar akan eksistensi hati nuraninya pasti akan tersentuh dengan penderitaan dan kesengsaraan orang lain walaupun bukan saudara atau familinya. Sehingga muncul keinginan untuk membantu meringankan beban orang lain (Syimpathetic reconstruction). Lebih terasa mulia nilainya baik di hadapan Tuhan maupun sesama, jika bantuan yang diberikan didasari dengan keihlasan/suka rela. Berbeda dengan seseorang yang lebih suka memilih hidup menyendiri. Ia akan menemukan kesulitan untuk bersosialisasi di masyarakat. Ia akan gamang dengan kegiatan yang biasa dilakukan di masyarakat. Sikap seperti ini kerap terjadi pada mereka yang kurang memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri. Selain itu, dampak dari hidup menyendiri itu adalah sifat individualisme yang tinggi pada diri seseorang. Kita tahu sikap individualisme itu sangat merugikan. Merugikan diri sendiri dan orang lain. Dikatakan merugikan diri ibarat bumerang, dengan sikap introvert (menyendiri)nya tersebut ia akan dijauhi dan dikucilkan orang banyak. Ketika ia memerlukan pertolongan orang lain, sulit menemukan orang yang mau menolongnya. Sebab ia kurang dikenal banyak orang alias orang terasing. Merugikan orang lain, karena ia hanya memikirkan pribadinya tanpa peduli dengan permasalahan orang lain. Artinya tidak ada rasa simpati, tenggang rasa, apalagi empati dengan penderitaan orang lain. Sekarang jawablah dengan jujur!,bisakah seseorang memperjuangkan dirinya sendiri tanpa bantuan siapapun seumur hidupnya ?... Lain halnya dengan belajar hidup mandiri (uzhlah). Hidup mandiri bukan berarti menjauhi interaksi dengan orang lain. Mandiri merupakan salah satu cara menumbuhkan sikap kedewasaan dan kematangan kepribadian seseorang. Maka dari itu hal tersebut sangat dianjurkan bagi mereka yang sedang menelusuri jati dirinya. Ia yakin pada kemampuan dirinya. Sehingga muncul kepercayaan diri. Dan kepercayaan diri inilah yang menjadi modal untuk bersosial di masyarakat. Ayo lakukan yang terbaik bagi dirimu dan orang lain di sekitarmu. Selamat berjuang untuk umat Diposkan oleh sat~nature di 07:57